IT Camp 02: StoryTelling & Pertemuan dengan Pak Onno W. Purbo

Senja berlalu menyisakan malam, mengurung matahari d balik bumi. Sesuai janji sebelumnya, malam ini saya lanjutkan cerita perjalanan kami bersama rekan-rekan Sanggar IT.

Tepat pada pukul 01:53 WIB kami tiba di stasiun Pasar Senen Jakarta Pusat stelah lebih kurang 10 jam 30 menit di goyang kereta api JayaBaya dari Stasiun Pasar Turi – Stasiun Pasar Senen. Ada hal menarik dan akan selalu ada hal menarik terhadap hal-hal yang baru kita coba, termasuk di perjalanan nekad ini.

Pada cerita sebelumnya kami tlah menuliskan perjalanan dari Lombok – Surabaya. Tulisan ini melanjutkan cerita kemarin malam yang saya tulis di atas kereta perjalanan.

Hampir jam 2 pagi tiba di Stasiun Pasar Senen, seperti pendatang baru pada biasanya. Kami turun dari kereta, hanya ikut-ikutan di belakang penumpang yang baru turun juga. Di benak kami, hanya 1 hal yang terpikir, mau cari masjid terdekat, buat tidur. Yap, pegal & kantuk menggantung seakan tubuh harus segera di istirahatkan. Sebab di atas kereta tidak boleh kami semua tidur, sepanjang perjalanan harus ganti-gantian atau istilah kerjanya piket-piketan, bukan karena tidak percaya keamanan kereta, hanya saja barang-barang elektronik kami yang di atas meja bisa saja jatuh karena goncangan.

Keluar dari pos kedatangan, kami masuk ke mushaalla stasiun untuk shalat isya dan mengganti shalat maghrib yang kami lewatkan. Alhamdulillah pada pukul tsb, kami masih bisa menunaikan shalat isya. Selesai shalat bersama sekitar jam setengah 3, kami berniat melanjutkan ke perjalanan ke masjid Istiqlal untuk istirahat tidur, namun waktu sedikit tertahan dengan seorang pria yang ada diantara kami dan sedang butuh sekali bantuan, pria tersebut kerja di Stasiun Gambir dan ingin pulang ke Semarang bersama istri. Di minta pulang karena ada musibah di rumahnya, hanya saja ongkosnya tidak mencukupi untuk membeli tiket berdua dengan istri. Setiap manusia yang masih punya empati tentu akan dapat merasakan apa yang di rasakan oleh pria itu, walau tak selengkap dan seberat dia. Ingin sekali kami dapat membantu sepenuhnya agar masalah yang di alami selesai tanpa menyisakan masalah lain. Namun, kami tidak mampu menjadi pahlawan yang saat sangat di butuhkan, tapi kami bisa rasakan, yang terjadi akan Happy ending.

Bangun dari tempat duduk dan berangkatlah kami melanjutkan langkah. Rame sekali stasiun ini, banyak sekali penumpang walau jam segini. Ceplas ceplos teman sebelah. Saya membalas, ini memang suasana kota, di waktu sepagi ini orang-orang masih rame. Apalagi di Jakarta yang penuh sesak.

Dengan suasana yang sama di tempat yang berbeda, sopir rebutan melihat penumpang yang keluar stasiun, di lihatnya seperti gadis Komplek yang tumben keluar rumah, mungkin kali ya. Haha

Kami tidak ingin terburu-buru dalam menggunakan angkutan, kami juga masih ingin menikmati suasana stasiuan dan sekitarnya. Dan yap, setiap kali ada tawaran dari angkutan, saya hanya berbohong: ada keluarga yang sudah menjemput.

Keluar dari stasiun, jejeran pedagang dan pelapak di samping trotoar menghiasi suasana malam kota Jakarta, dari pedagang gorengan, mie ayam, ketoprak hingga soto. Terhenti scanning mata kami di penjual soto, selain karena jualannya yang sudah biasa kami tahu, juga harga jualannya yang terpampang dan paling murah di antara jualan yang lain, yaitu hanya 10rb.

Singkat cerita karena lapar, ya makanlah kami. Tapi uups, sebelumnya saya pastikan dulu harganya agar jangan sampai terjebak oleh tulisan harga di kertas HVS yang di eliminating. Sesuai dengan kenyataan, kami makan bertiga di temani abangnya. Kami habiskan total 46rb untuk sekali duduk di tempat makan, harga soto total bertiga hanya 30rb, sisanya plus kawan-kawannya Teh hangat dan kerupuk.

Yang nikmat dari setiap perjalanan menurut saya pribadi bukan hanya pengalaman baru berkunjung ke tempat itu, tapi adanya story telling atau kisah yang terungkap di setiap titik perjalanan itu melengkapi setiap keistimewaan tempat dan suasana yang ada. Begitu juga saat makan soto, ada kisah yang tersampaikan oleh si abangnya dan menambah bahan tulisan kami setelah cerita dengan pria di mushalla.

Mohon maaf sebelumnya untuk semua bagi yang tlah membaca tulisan-tulisan kami di blog ini, mungkin banyak hal yang tidak penting bagi Audiens yang terpenggal dalam beberapa paragraf di cerita kami. Walau tulisan dalam artian sebagai media edukasi, tapi saya pribadi menggunakan tulisan untuk mengingatkan. Bukan semata-mata untuk Audiens, karena itu saya menulis semua akan seperti sepersis mungkin apa yang saya alami dengan tujuan mengingatkan saya pernah mengalaminya dan pernah menulisnya. Hanya itu.

Selesai makan dan ngobrol, sekian menit berlalu dan pukul kurang lebih jam setengah 4 kami kembali masuk ke Stasiun, rencana ingin menunggu hingga waktu shalat subuh. Saat sedang asyik berbincang di jalan, terlihat lentera terang di bangunan hijau dari kejauhan, nah Masjid!. Bergegaslah kami dengan mempercepat langkah dengan harapan utama saat turun dari stasiun: Tidur.

Sesampainya di pintu gerbang, WAAAOW. Suasana lebih ramai kami temukan di depan masjid, banyak mobil dan motor berjejer. Kendaraan umum juga ikut-ikutan meramaikan, wah Jakarta. You so crowded. Terlintas kata-kata, “Ke Istiqlal yukk?”, “Yukk”, “Tapi naik Bajaj ya?”, “Yukk”. Bajaj yang nggak perlu di cari, udah nongol di depan kami sambil melihat kami juga. Seperti biasa anak rantau yang budget pas-pasan. Tanya harga, cocok? Berangkat. Ongkos ke Masjid Istiqlal kami keluarkan hanya 25rb, di perjalanan ada titik penting lagi yang kami ketahui. Salah satunya RSPAD , RS tempat presiden ke-3 di rawat hingga akhir hayatnya. Selamat jalan Pak Habibie, cinta dan karyamu, tertinggal utuh di benak masyatakat Indonesia yang mencintaimu. Semoga khusnul khotimah.

Kemudian kami juga melewati Katedral yang letaknya bersebalahan dengan Masjid Terbesar se Asia Tenggara yaitu Masjid Istiqlal, dari apa yang kami baca, kedua tempat istimewa dan besar ini di desain oleh arsitektur yang sama. Tiba di Istiqlal, masuk ke area masjid, suasana nyaman seperti di kebanyakan masjid lainnya. Kami titipkan sepatu dan barang bawaan, ambil wudhu, shalat tahyatul masjid dan pleek tidur hingga adzan subuh.

“Sudah siang mas”, suara plus tepukan pada dengkul saya. Yah, kami di bangunin satpam masjid yang mengingatkan ini sudah siang dan saat itu baru jam stengah 7 loh. Mata terbuka tapi tubuh sulit terbangun, sebaliknya tubuh terbangun dan mata sulit terbuka. Sungguh tidur kami tidaklah puas.

Sebangunnya kami manfaatkan untuk foto-foto, Monas yang nampak tinggi pun sudah nampak dari atas masjid. Lalu hal tidak menyenangkan terjadi, sebenarnya sudah terjadi. Tas dan barang yang kami titipkan berada dalam ruangan penitipan dan petugasnya pergi ntah kemana? Hingga siang juga tak datang. Kami harap beliau bukan bang Thoyib yang 3 lebaran nggak datang, bisa keder kami.

Tibalah si abang penjaga ruangan yang tlat datang denga wajah yang tak sama sekali tegang melihat kami yang sudah matang menunggu ia datang. Ambil barang, lanjutkan perjalanan.

Sebenarnya ada misi yang kami bawa dalam perjalanan ini. Pertama, untuk mengikuti pelatihan. Kedua, mempertemukan kedua saudara yang lama tidak berjumpa, yaitu teman perjalanan kami. Izzy dengan kakaknya. Dari Masjid Istiqlal kami lanjut berangkat ke daerah Jakarta Timur untuk bertemu dengan kakaknya Izzy. Dia seorang Tahfidz yang pintar & sopan, dan dia juga perempuan. Masyaallah, saya pribadi sangka adalah seorang cowok selama ini.

Alhamdulillah, ongkos Grab Car kami di bayarkan oleh kakaknya hingga ke tempat kakaknya di Yayasan Al-Ustmani, Desa Dukuh, Keramat Jati, Tangsel. Muter & pusing-pusing bersama di sopir tapi alhamdulillah ketemu juga. Yayasan tersebut terlihat seperti lembaga pendidikan khusus untuk para calon Tahfidz AlQur’an. Siswanya mulai dari yang usia anak-anak hingga dewasa.

Setelah 4 tahun tak bertemu, hingga akhirnya siang ini mereka bertemu dalam keadaan insyaallah sehat wal afiat. Mengantarkan salam & kerinduan Izzy & sekeluarga sekaligus bingkisan dalam kardus persegi yang kami bawa dari awal keberangkatan. Suasana yang syahdu dan tak bisa saya tulis sedetilnya.

Jumat berkah, kami bersiap-siap untuk melaksanakan shalat jumat. Numpang mandi pun di Yayasan tersebut. Kemudian berangkatlah kami menggunakan Grab Car dengan jarak tempuh sekitar 2 km dengan ongkos 15rb.

Menjadi sebuah kebanggaan karena menjadi pengalaman baru kami sujud dan berdoa di masjid besar yang ada di Jakarta Timur, yaitu Masjid Agung At-Taqin. Sebelumnya kami shalat subuh di Masjid Istiqlal dan sekarang shalat jumat di Masjid Agung At-Taqin. Masyaallah nikmatmya.

Sepulang jumatan, waktu kami habiskan banyak dengan tersesat dan bercanda di jalan. Bagian ini paling nyampur semua perasaan, kami bingung karena nggak ingat jalan pulang dan uang tidak bawa, juga kami senang dan gembira karena di sepanjang jalan banyak bercanda. Sudah susah tapi banyak becanda? It’s better daripada sudah susah, ketawa juga susah.

Biarkan video dan poto yang memperlihatkan kekonyolan kami di bagian ini.

Singkat cerita, sampailah kami di tempat kakak izzy, ntah darimana petunjuk yang datang. Tapi yang pasti sumbernya hanya dari Allah. Istirahat siang sejenak dan sorenya kami putuskan untuk lanjutkan perjalanan ke lokasi acara.

Berangkat pada pukul 04 sore berangkat dari Jl. Dukuh 5, Keramat Jati, Jakarta Timur menuju ke Citra Alam LakeSide, Cliendeuh, Tangsel menggunakan Grab Car dengan tarif 82rb.

Jakarta memang punya banyak cerita yang bisa di angkat selain dari masalah macetnya yang begitu macet. Wih iya macet banget. Keterangan sopir grab, Jakarta walau penuh tapi orang tetap ada yang berkunjung untuk mengadu nasib karena disini semua yang di lakukan selalu bisa jadi uang.

Tidak banyak ngobrol di mobil karena juga kami mengantuk dan sopirnya yang memang pendiam. Tibalah kami jam setengah 7 malam di Citra Alam Lakeside, sebuah tempat sejuk dengan suasana alam yang terjaga dan tertata. Dan disinilah pertemuan pertama kami dengan bapak penemu BTS & Internet Wajan Bolik: Onno Widodo Purbo, sumbahsih beliau sangat besar untuk perkembangan Internet di Indonesia.

(ngantuk, besok lanjut. Tidur dulu.)

About Harrylicious

An IT Enthusiast. Founder Sanggar IT Lombok & Agromina.id. System Analyst. Android Programmer. IT Consultant. Writer on Lombokit.com.

Leave a Reply