Pempek Palembang: Kenangan dari Air, Tawa, dan Kebersamaan

Spread the love

Palembang tak hanya dikenal sebagai kota yang berdiri megah di tepian Sungai Musi dengan Jembatan Ampera yang menjadi simbol kebanggaannya. Kota ini juga memiliki salah satu kuliner yang telah menjelajah jauh, hingga ke berbagai penjuru nusantara—Pempek. Makanan berbahan dasar ikan dan sagu ini bukan sekadar hidangan, melainkan bagian dari cerita hidup banyak orang: cerita tentang rumah, kebersamaan, dan tawa yang pernah dibagi.

Lahir dari Air, Dibentuk oleh Tradisi

Konon, pempek sudah ada sejak abad ke-16 pada masa Kesultanan Palembang Darussalam. Kisah yang sering diceritakan adalah tentang seorang kakek tua yang tinggal di tepian sungai. Ia merasa prihatin melihat banyaknya ikan segar yang tidak dimanfaatkan dengan baik dan sering hanya dibuang begitu saja.

Karena ingin menyelamatkan ikan-ikan itu, ia mencoba mengolahnya dengan mencampurnya bersama sagu lalu membentuknya menjadi adonan. Hasilnya begitu lezat dan mulai disukai banyak orang. Masyarakat memanggil sang kakek dengan sebutan “Apek” atau “Pek”, sehingga lahirlah nama Empek-Empek, yang sekarang kita kenal sebagai pempek.

Dari tepian Sungai Musi, pempek berkembang dan menjadi kebanggaan warga Palembang. Sebuah warisan yang lahir dari rasa peduli dan kreativitas sederhana, namun bertahan sepanjang zaman.

Rasa Gurih yang Tak Pernah Sendirian

Pempek selalu hadir dalam berbagai bentuk dan topping yang membuatnya memiliki banyak kepribadian:

  • Pempek Kapal Selam dengan isian telur—bintang utama yang selalu dicari

  • Pempek Lenjer yang ramping dan sederhana, cocok digoreng ataupun direbus

  • Pempek Adaan, bulat dan gurih dengan aroma rempah lembut

  • Pempek Kulit, renyah dengan rasa ikan yang lebih kuat

  • Pempek Keriting yang unik dan cantik bentuknya

Namun apa pun jenisnya, pempek tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu ditemani cuko—saus hitam coklat gelap yang dibuat dari gula aren, bawang putih, cabe rawit, dan asam. Cuko bukan sekadar pelengkap, melainkan roh dari pempek itu sendiri.

Rasa pedas, asam, dan sedikit manis yang menyentuh ujung lidah, membuat setiap gigitan pempek menampilkan permainan rasa yang hidup. Seolah mengingatkan kita bahwa hidup pun demikian: tidak hanya manis belaka, tapi juga pedas dan asam yang membuatnya berharga.

Makanan yang Menyimpan Cerita Kebersamaan

Setiap orang punya kenangan sendiri tentang pempek.
Ada yang mengenalnya pertama kali saat makan bersama keluarga besar di hari libur.
Ada yang menjadikannya bekal rindu ketika merantau jauh dari Palembang.
Ada pula yang menyantapnya di sekolah bersama teman-teman sambil tertawa tanpa beban.

Pempek hadir dalam banyak momen kecil yang terasa hangat:
mendampingi obrolan santai, menjadi suguhan saat tamu datang, atau sekadar teman menonton TV di sore hari.

Ketika sepiring pempek tersaji, tidak cuma rasa yang datang, tapi juga rasa dekat dan menyatu.
Karena makanan ini seolah diciptakan untuk dibagi—untuk dinikmati bersama orang-orang terdekat.

Tekstur Lembut yang Menyimpan Kekuatan

Di balik teksturnya yang kenyal dan lembut ketika digigit, pempek memiliki karakter kuat yang menggambarkan masyarakat Palembang: tegar, berani menghadapi gelombang kehidupan, tapi tetap membawa kelembutan hati.

Setiap adonan pempek diproses dengan tangan yang terampil, penuh perhatian. Mulai dari memilih ikan terbaik—biasanya ikan sungai seperti belida, tenggiri, atau gabus—hingga menguleni adonan dengan sagu hingga pas. Tidak terlalu keras, tidak terlalu lunak. Semuanya membutuhkan kepekaan dan pengalaman.

Mungkin itu sebabnya, pempek buatan tangan ibu di rumah selalu punya rasa yang berbeda—lebih dekat, lebih akrab, lebih penuh cinta.

Jejak Rindu dalam Setiap Gigitan

Bagi banyak perantau asal Palembang, pempek adalah simbol kampung halaman. Saat rasa rindu terhadap keluarga datang tanpa permisi, pempek menjadi cara untuk pulang—meski hanya lewat ingatan.

Ada rasa yang menyentuh hati ketika cuko pedas itu menyengat lidah.
Ada kenangan masa kecil yang ikut hadir saat pempek pertama digigit.
Ada tawa penuh nostalgia yang pelan-pelan kembali terdengar di dalam kepala.

Pempek bukan hanya kuliner… ia adalah pengingat bahwa kita pernah memiliki tempat untuk pulang.

Melebarkan Sayap ke Seluruh Nusantara

Dari warung kaki lima hingga restoran ternama, pempek kini bisa ditemukan di hampir semua kota besar di Indonesia. Bahkan telah menjadi oleh-oleh favorit yang selalu dinantikan setiap kali seseorang bertandang ke Palembang.

Namun di mana pun kita mencicipinya, selalu ada satu pertanyaan yang muncul:
“Enakan pempek Palembang asli, kan?”

Karena memang ada sesuatu yang hanya bisa dirasakan ketika memakannya langsung di kota asalnya—ditemani angin sungai Musi dan suasana kota yang hangat, ramah, dan ceria.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *